Minggu, 19 April 2015

GAGAL PART 1


Bersyukur bagi yang mudah dalam mendapatkan suatu pekerjaan, karena tidak terjadi padaku yang harus jatuh bangun dalam mencari pekerjaan. Setelah lulus Alhamdulillah aku diterima di salah satu bank syariah swasta, aku mendapat pekerjaan ini melalui jobfair bersama temanku, padahal waktu itu aku hanya ikut-ikut saja memasukkan lamaran ke bank itu tapi ternyata malah aku yang keterima. Segala Puji Bagi Allah ^_^

Tapi entah kenapa aku tidak nyaman dengan tempat bekerja ku ini, semakin hari tekanan semakin jadi, sampai aku berfikir untuk resign toh buat apa aku paksakan berjuang disini tidak ada yang aku cari disini, tidak ada yang harus aku pertahankan disini. Yaa keputusanku untuk resign sudah bulat, walaupun banyak orang yang menentang dengan keputusanku ini termasuk keluargaku sendiri, “tahan dulu lah minimal sampai 1 tahun disana, kalaupun tidak sampai 1 tahun kamu harus mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu baru kamu keluar dari tempat kerjamu” nasehat orang tuaku waktu itu. Percuma saja semua nasehat-nasehat itu aku akan kekeuh dengan prinsip ku, belum mendapatkan pekerjaan? Gak masalah, kan aku bisa cari lagi, aku juga optimis  dengan tes cpns-ku yang sebentar lagi akan dilaksanakan. 

Hanya 7 bulan saja aku bekerja di bank itu, memang belum banyak yang aku dapatkan tapi minimal aku sudah pernah bekerja, itu cukup untuk bekalku di tempat bekerja nanti, fikirku waktu itu. Tepat ini hari terakhirku bekerja, aku tidak merasa sedih dengan hari perpisahan ini justru sebaliknya aku senang karena inilah hari yang aku tunggu-tunggu, hari dimana aku bebas dengan tekanan-tekanan itu. Yes aku akan memulai hari baru ditempat lain, optimis sekali aku hari itu.
Setelah aku resign, aku belum memutuskan untuk memasukan lamaran ke tempat lain karena aku masih ingin fokus untuk tes cpns-ku, di rumah aku banyak mengerjakan latihan soal-soal, dengan seluruh keyakinanku aku sangat optimis bisa tembus cpns. Ternyata keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh pun belum cukup, aku GAGAL tes cpns-ku di tahap awal. Ahh benar-benar aku kecewa. 

Kegagalan kemarin tidak membuat aku patah semangat untuk mencari pekerjaan lain, aku harus membuktikan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan hasil jerih payah ku sendiri. Biarlah rasa kecewa kemarin menjadi pemicu semangat dalam pembelajaran ku ke depan.
Lamaran demi lamaran aku masukkan, baik melalui pos, email, bahkan mengirim langsung ke tempat tujuan, Alhamdulillah aku mendapat panggilan bank syariah pertama di Indonesia, entah kenapa walaupun aku pernah kerja di bank aku tidak kapok untuk melamar di bank kembali. Kesempatan untuk bekerja di bank syariah pertama di Indonesia ini harus aku lupakan, aku GAGAL dalam tes interview padahal aku sudah bangga bisa melewati tes pengetahuan umum dan tes pengetahuan agama. It’s okey aku tidak terpuruk untuk kegagalan keduaku ini, aku malah lebih semangat memasukan lamaran kemana-mana sambil menikmati bisnis pulsa-ku. 

Hari itu aku mendapat panggilan dari bank syariah buko***, Alhamdulillah aku lulus psikotest padahal dalam tes itu banyak jumlah sainganku. Yes, aku akan menaklukan tes berikutnya, yaitu tes interview bersama psikolog. Aku optimis dengan bekal beberapa kali tes interview kemarin. Ternyata benar nikmat sehat itu mahal, mahal sekali. Aku harus pasrah ketika jarum infus harus ada ditanganku, aku harus masuk ruang perawatan, padahal tiga hari lagi aku harus datang tes interview itu. Rabb, aku ingin ikut tes itu, aku yakin bisa melanjutkan tes-tes selanjutnya, segera pulihkan kesehatanku agar aku bisa pulang kerumah. Benar saja ternyata aku boleh dipulangkan kerumah walaupun dengan cara memaksa  dokter, besoknya aku dengan percaya diri berangkat menuju tempat interview walaupun harus diantar oleh orangtuaku, karena mereka tidak tega membiarkan aku pergi sendirian dengan tubuh masih lemas. Aku bisa menjawab semua pertanyaan dari psikolog itu, aku yakin sekali dengan jawaban-jawaban tegas-ku. Tapi ternyata aku GAGAL !

Tapi aku masih percaya dengan arti GAGAL, bukankah kegagalan adalah keberhasilan yag tertunda? Dengan banyak GAGAL, berarti kita terus dikasih kesempatan untuk banyak belajar.  Harapan itu masih ada dan akan terus ada selama usaha kita tidak berhenti. 

Hari itu aku datang ke acara walk in interview salah satu bank terkemuka di Indonesia, walaupun bank ini bukan bank syariah, aku tetap semangat mengikuti interview ini. Dengan bekal blazer dan heels kesayangan, aku siap dengan para interviewer.  Rabb, mengapa aku dipertemukan dengan interviewer seperti ini, kenapa aku tidak dipertemukan dengan interviewer seperti disampingku atau seperti di depanku yang kelihatannya baik dan ramah sekali. Pertanyaan pertama saja aku tidak bisa menjawab, bagaimana bisa menjawab menurutku itu pertanyaan skak mat buat ku. Bagaimana tidak, aku diberi pertanyaan seperti ini “mengapa kamu mau melamar di bank yang jelas-jelas bukan syariah, padahal kamu adalah lulusan dari universitas islam?”. Lagi, aku GAGAL!

Aku mendapatkan panggilan di rumah sakit yang berlokasi tepat depan kampusku, aku datang untuk memenuhi panggilan tes staf SDM dirumah sakit tersebut. Mungkin ini jalanku untuk bekerja sesuai dengan gelarku dan bidangku yaitu Kesehatan, Alhamdulillah tes demi tes  berhasil aku lewati mulai dari tes pengetahuan, tes interview, dan tiba saatnya aku tes komputer. Dan entah keberapa kalinya aku yakin akan berhasil dengan hasil tes ini, bagaimana tidak yakin tes komputer itu benar-benar mendasar  yaitu  micrososft office (word, power point, dan excel). Bukan sombong dengan kemampuanku, tetapi menurutku memang tes ini benar-benar mudah, kita hanya diberi tugas untuk mengetik dalam waktu yang ditentukan, membuat suatu power point, dan tabel dalam excel. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semua tugas itu dan kurang dari waktu yang ditentukan, tapi apa yang terjadi? Aku GAGAL dalam tes komputer, aku tidak terima bagaimana bisa aku lulus tes pengetahuan umum, aku lulus interview tapi aku GAGAL tes komputer? Rabb, sebodoh itu kah seorang Farida Hidayati, SKM harus gagal hanya sebuah tes komputer, benar-benar keputusan yang tidak bisa aku terima. 

Hari demi hari aku mulai berdamai dengan keputusan itu, aku masih percaya dengan makna GAGAL “yang paling dekat dengan keGAGALan adalah keberhasilan” . Dengan niat dan do’a yang sungguh-sungguh pasti aku akan berhasil. Masih banyak kesempatan diluar sana, toh dengan tidak bekerja aku masih bisa mendapat penghasilan dari hasil bisnis pulsaku, yaa walaupun jauh dengan gajiku dulu sewaktu bekerja di bank. 

Hari itu aku mendapat panggilan dari fakultas ku untuk tes posisi staf administrasi kesehatan di salah satu klinik yang dikembangkan oleh fakultasku tersebut. Ternyata sainganku adalah temanku sendiri, dan hanya dia satu-satunya yang menjadi sainganku, kenapa aku bilang satu-satunya? karena Interviewer menjelaskan bahwa yang ikut dalam tes ini hanya dua orang yaitu aku dan temanku itu. Aku pasrah, pun kalau aku tidak diterima berarti yaa memang rezeki temanku itu. Berhari-hari aku menunggu tapi tak ada kabar yang datang. Sampai pada suatu hari, aku mendapatkan kabar bahwa sudah ada yang diterima untuk posisi tersebut, ohh oke pasti temanku yang diterima pikirku waktu itu. Aku shock ternyata bukan, bagaimana tidak shock yang diterima adalah orang lain, bagaimana bisa? Bukankah penjelasan interviewer itu menegaskan hanya aku dan temanku yang ikut dalam tes itu? Kenapa yang diterima adalah orang lain? Rabb…aku benar-benar kecewa, lagi dan lagi aku GAGAL !

Ternyata benar yang bisa menghilangkan rasa sedih, kekecewaan adalah waktu, yaa seiring berjalannya waktu, aku bisa menerima keputusan tersebut, selalu hati ini aku sugestikan “ ada rezeki terbaik diluar sana yang masih Allah simpan untuk mu Farida”. Hanya itu yang bisa menguatkanku, walaupun sudah beberapa kali GAGAL, aku tidak pernah berhenti untuk memasukkan lamaran, hingga suatu hari aku mendapat panggilan di salah satu bank syariah terkenal, ahhhh bangga sekali aku mendapat panggilan itu, kenapa aku sangat bangga? Bagaimana tidak bangga, sudah berkali-kali aku masukkan ke tempat itu dan baru kali aku mendapat panggilan untuk interview. Aku sangat semangat mengikuti tes itu, saking semangatnya aku harus terlambat bangun hanya gara-gara membaca buku sampai larut. Terlambat tidak menghalangi ku untuk tetap tiba tepat waktu di tempat tersebut, tidak peduli harus membayar ojek dari tangerang selatan, rumahku menuju tempat interview di daerah Jakarta Pusat, bagaimana caranya aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Alhamdulillah aku tidak terlambat, aku juga lancar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi ternyata aku masih GAGAL!

Kalaupun harus mati dalam keadaan berjuang, bukan dalam keadaan menyerah Farida !

Mungkin prinsip itu yang harus aku pegang saat ini. Masih banyak kesempatan diluar sana Farida, semua akan baik-baik saja, move on move on Farida…Hari ini aku mendapat panggilan di salah satu sekolah islam swasta di daerah BSD untuk posisi staf tata usaha, aku semangat dalam panggilan tes itu, walaupun aku tidak tau lokasi sekolah tersebut dengan percaya diri aku mengendarai motor sendiri tanpa banyak tanya. Aku sampai di sekolah tersebut, aku senang dengan suasana islami yang menurutku sangat kental dan ternyata sekolah tersebut mengharuskan semua siswa dan staf berbahasa inggris dalam berkomunikasi, semoga ini memang kesempatan untukku agar aku bisa mengasah kemampuan bahasa inggrisku disini. Hari itu ada tiga tes, tes pertama adalah tes pengetahuan agama, tes kedua tes komputer dan tes terakhir adalah tes interview, aku sangat enjoy dengan interview tersebut karena memang lebih banyak sharing bukan introgasi. Diakhir interview, interviewer mengatakan jika akan menghubungiku apapun keputusannya baik diterima atau tidak diterima dalam jangka waktu seminggu. Aku ingat betul kata-kata terakhirnya, yaa akan menghubungiku, seminggu sudah berlalu tapi tak ada yang menghubungiku, aku mulai resah kenapa harus menjanjikan seperti itu, apa dia tidak tau bahwa aku benar-benar mengharapkan keputusan itu, aku tidak peduli dengan hasilnya yang penting aku dihubungi, titik. 

Hari itu puncak kegelisahanku, hari dimana semua harapan-harapan sudah musnah rasanya, semangatku hilang entah kemana, Farida yang optimis, semangat dan selalu berjuang untuk cita-citanya sudah tidak ada. Semua terasa kosong…hari itu bertepatan dengan hari Jum’at, aku hanya banyak menghabiskan waktu dengan berdiam di kamar dan rasanya tidak ingin bangun dari tempat tidurku. Kerjaanku hanya menangis, menangis dan menangis. Yang ada hanya kata-kata keluhan kepada Sang Pencipta, mengapa begini?mengapa begitu?. Sampai tiba waktu shalat Jum’at terdengar suara khatib sedang memberikan ceramah jum’atnya, entah kenapa isi ceramah itu tiba-tiba memekakkan telingaku “Ketika niat kamu sudah lurus, usaha kamu sudah maksimal, dan do’a kamu sudah sungguh-sungguh kepada Allah dan permintaan kamu belum dikabulkan maka disaat itulah Allah sedang menghapus seluruh dosa-dosamu” Aku hanya bisa menangis dan menyesali keluhan-keluhan yang sudah keluar dari mulutku. Mengapa aku harus mengeluh, bukannya bersyukur..Aku mohon ampun kepada-Mu

Bukankah Thomas Alva Edison harus gagal sampai ke 9.998x ??? apa itu yang disebut dengan keGAGALan?? BUKAN, melaikan keGIGIHan. Kamu memangnya sudah GAGAL berapa kali ? 100 kali ? malu sekali rasanya dilontarkan pertanyaan seperti itu, aku sudah mengeluh padahal kegagalanku masih bisa dihitung dengan hitungan jari, ayo Farida kamu pasti bisa, aku mencoba menyemangati diri sendiri.

Hari ini aku mendapat tawaran bekerja dari kaka sepupuku yang bekerja di perusahaan properti di daerah Jakarta Selatan, tanpa fikir panjang aku meng-Iyakan tawaran tersebut. Hari ini aku tes diperusahaannya, ada tiga tes yang harus aku lalui yaitu tes pertama adalah tes bahasa inggris, tes komputer dan interview. Dua tes tersebut aku bisa lalui dengan mudah, dan terakhir adalah tes interview, ternyata pimpinan perusahaan tersebut adalah seorang wanita yang menurutku masih muda, dan beliau merupakan keturunan tionghoa. Satu persatu pertanyaan aku bisa jawab dengan mudah, sampai pada pertanyaan tentang pengalaman bekerjaku, tadinya aku tidak ingin menceritakan pengalaman bekerjaku di Bank dahulu, tapi entah kenapa aku malah menceritakan semuanya sampai alasan resign pun aku ceritakan. Beliau kaget mendengar alasan resign-ku, dan aku pun juga kaget dengan ucapan yang sangat menohok yang beliau utarakan ke aku:
 “kamu tau Bank itu adalah perusahaan yang sangat besar ? kamu tau kamu tidak mudah untuk masuk ke Bank itu ? kamu tau banyak orang yang ingin mendapatkan pekerjaan di Bank itu ? kamu tau berapa banyak saingan yang sudah kamu sisihkan dalam mendapatkan posisi di Bank itu ? kamu tau Bank itu sudah besar, banyak orang yang bisa mengendalikan dari mana saja seperti remote control ? tidak seperti perusahaan saya yang hanya bisa dikendalikan oleh saya seorang, yang jika saya tidak masuk maka kacau-lah perusahaan saya ini ? apa kamu tidak fikir, kalau kamu sudah diberikan ilmu dari kamu yang tidak tau apa-apa menjadi bisa dan tau, dan ketika kamu sudah bisa kamu tinggalkan perusahaan kamu begitu saja tanpa rasa bersalah ? saya akui kamu pintar, saya liat IPK kamu tinggi, kemampuan tes komputer kamu baik, dan kemampuan bahasa inggris kamu juga bagus tapi sayang mental kamu masih mental tempe, pesan saya dimanapun kamu bekerja nanti, bekerjalah dengan hati, ingat keringat, tenaga, waktu kamu sudah dibayar oleh perusahaan kamu jadi kamu juga harus bertanggung jawab atas itu”

Rabb, apalagi ini? kenapa aku dipertemukan dengan orang seperti ini, kenapa orang yang baru pertama kali bertemu dengan aku bisa berbicara menusuk seperti ini, aku hanya ingin keluar dari ruangan ini, aku hanya ingin cepat sampai rumah dan semoga Allah masih memberikanku kesempatan untuk bertaubat. Di dalam angkot menuju pulang ke rumah, aku menahan tangis, sepanjang jalan aku berdoa dalam hati “Rabb ampuni aku, berikanlah kesempatan aku untuk bertaubat” itu saja kalimat yang aku ulang-ulang sepanjang perjalanan. Sampai dirumah aku menangis sejadi-jadinya dan aku langsung memeluk orangtuaku dan meminta maaf kepadanya. Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan aku untuk bersujud…bertaubat. 

Hari ini aku mendapat panggilan di salah satu perusahaan minuman yang sudah terkenal di Indonesia, kebetulan sewaktu kuliah aku juga pernah mengunjungi perusahaan tersebut pada mata kuliah Hygiene Industry di daerah Sukabumi.  Tes pertama yang harus aku hadapi adalah Psikotest, Alhamdulillah tidak ada kesulitan yang berarti untuk tes hari ini, benar saja aku di hubungi  untuk tes selanjutnya yaitu tes interview tapi untuk tes interview ini lokasinya bukan dikantor pusat melainkan dikantor cabang Ciledug. Walaupun aku tidak tau lokasi tersebut dan lokasi tersebut sangat jauh dari tempat tinggalku, tidak ada halangan aku untuk datang dan menaklukan tes tersebut. Orang tuaku tidak tega membiarkan aku pergi sendirian karena memang lokasi yang sangat jauh alhasil aku diantar oleh orang tuaku. Ternyata memang lokasi ini sangat sangat jauh, Ciledug paling ujung orangtua aku menyebutnya. Ketika sampai lokasi interview, bukannya orang tuaku memberi semangat malah yang keluar dari ucapannya adalah membuat aku down, pesan orang tuaku seperti ini “kalau nanti kamu memang diterima disini, gak usah diambil yaa cari pekerjaan ditempat lain aja tempatnya ini terlalu jauh”. Aku benar-benar tidak semangat dalam tes interview ini, selalu terngiang-ngiang perkataan orangtuaku, untuk apa aku tes, kalau nanti pun aku diterima tidak disetujui untuk bekerja disini, Rabb apa lagi ini, apa yang harus aku lakukan ???. 

Entah kenapa hari-hari yang aku lalui sekarang lebih terasa ringan, tidak ada beban sama sekali dan aku juga sudah bisa melupakan semua kegagalan-kegagalan yang terjadi. Mungkin aku sudah bisa pasrah terhadap kehendak-Nya. Pagi itu seperti biasa kegiatanku adalah duduk manis di depan laptop, apalagi kalau bukan hunting-hunting lowongan. Mataku terhenti pada satu lowongan di internet, aku langsung melihat tanggal dan Alhamdulillah masih ada waktu dan hari ini adalah hari terakhir menyerahkan lamaran, bergegas aku menyiapkan lamaran dan berganti pakaian untuk pergi ke tempat penyerahan lamaran, karena memang persyaratan yang tercantum adalam menyerahkan lamaran secara langsung. Lokasi tempat penyerahan lamaran lumayan jauh tapi minimal masih bisa dijangkau mudah oleh angkutan umum, Astagfirullahaladzim hampir saja angkot yang aku naiki ini menyerempet motor, aku tidak ada fikiran apa-apa saat itu yang ada difikiranku hanyalah bagaimana aku bisa sampai dan menyerahkan lamaranku ini. Alhamdulillah aku sampai dengan selamat. 

Yaa lowongan yang aku masukin kemarin adalah lowongan diperusahaan asuransi kesehatan terbesar di Indonesia, pasti semua orang juga sudah tau jawabannya, PT. ASKES (Persero). Perusahaan tersebut sedang membutuhkan verifikator kesehatan untuk program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang mana program ini adalah program yang sangat diunggulkan oleh Bapak Gubernur DKI  Jakarta (sekarang jadi presiden kita yaa). Alhamdulillah aku mendapat panggilan untuk psikotest, dan aku lulus dalam tes tersebut. Besok adalah hari interviewku, aku sangat deg-degan sekali, bagaimana tidak deg-degan besok aku harus berhadapan dengan salah satu  Kepala Cabang (KACAB) PT. Askes di Jakarta. Aku sudah sangat semangat sekali mengikuti tes tersebut, tapi kenapa harus ada dua panggilan pekerjaan di waktu yang bersamaan dengan jadwal interviewku di PT. ASKES, Rabb bagaimana ini apa yang harus aku pilih ? dua panggilan lainnya adalah panggilan tes di Rumah Sakit di daerah Bogor (posisi staf gizi) dan satunya adalah panggilan dari salah satu Bank yang sangat terkenal di Indonesia. Jika aku bisa membelah diri, aku akan membagi diriku ke tiga tempat tersebut, tapi mana mungkin satu-satunya pilihan adalah harus memlih SATU diantara TIGA pilihan. Dengan membaca Bismilah dan niat yang tulus, aku sudah menetapkan pilihan untuk tes yang akan aku ikuti besok, yaa pilihannya adalah PT. ASKES. 

Hari ini aku hanya ingin bertanggung jawab atas pilihanku, hari ini aku hanya ingin menaklukan tes itu, tidak ada target atau apapun, semua hasil akan aku serahkan kepada Sang Pemberi Rezeki. Karena untuk ke dua kali ke lokasi tersebut, aku sudah hafal dengan jalan dan angkotnya jadi sudah tidak usah banyak tanya lagi, mobil terakhir yang harus aku naikin yaitu bus metromini, aku ingat betul di dalamnya hanya ada tiga penumpang yaitu aku, seorang ibu dan anak laki-lakinya. Aku memilih duduk paling depan, biar gampang turunnya fikirku saat itu. Setengah perjalanan sudah terlewati, tidak ada juga penumpang yang naik masih aku, seorang ibu dan anak laki-lakinya. Lahaulawalkuataillabillah…apa yang terjadi dengan bus yang aku tumpangi ini, kenapa jadi tiba-tiba oleng dan tidak bisa dikendalikan, aku panik  apalagi ditambah dengan teriakan dari seorang keneknya yang hanya bilang “REM NYA, REM NYA, REM NYA”. Allahuakbar tanpa fikir panjang aku, ibu dan anak laki-lakinya langsung loncat keluar dari bus. Segala Puji Bagi Allah aku selamat, aku selamat dari maut, aku benar-benar tidak mau mengingat kejadian itu, benar-benar mengeringkan, benar-benar menakutkan, aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu, yang ada didalam fikiranku hanyalah, aku hanya ingin menyelesaikan tes interview itu Rabb, itu saja, tidak lebih. 

Sesudah loncat dari bus, aku hanya bisa diam. Sampai ibu yang juga loncat bersamaku itu menghampiriku dan berkata “ade gak papa? Ini minum dulu” lalu aku hanya menggelengkan kepala dan mengucapkan terima kasih karena aku sudah membawa minum. Rabb, kenapa mulutku jadi susah untuk digerakkan? Apa yang terjadi dengan ku Yaa Rabb? Bagaimana bisa mulut ini susah untuk digerakkan padahal aku harus menjawab pertanyaan interviewer tersebut ? Do’aku hanya satu pada saat itu “Rabb  jika memang ini rezekiku tolong permudahlah, tetapi jika ini memang bukan rezekiku, berikan pekerjaan lain yang terbaik untukku”. Aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan, entah kenapa aku terfikir untuk sms kakaku dan memberitahukan kejadian mengerikan yang baru saja aku alami. Alhamdulillah balasan dari kakaku bisa menenangkan hati dan fikiranku “sebelum masuk ke ruang interview, kamu cari mushola dulu dan tenangin diri disana, jangan lupa berdo’a gak usah mikir apa-apa in sha allah semuanya akan baik-baik saja, doaku menyertaimu ^_^”. 

Tidak lama aku menunggu di ruang interview,namaku dipanggil. Bismillah semua akan baik-baik saja, dan ternyata interviewer ku adalah Kacab dari Jakarta Timur, ehhm menurutku Bapak Kacab ini baik dari mukanya, senyumnya bisa menghilangkan kekhawatiranku, Alhamdulillah satu persatu pertanyaan bisa aku jawab sampai-sampai tak terasa satu jam aku di interview oleh Bapak Kacab ini…wahhh rekoorrr interview terlama yang pernah aku hadapi selama aku mengikuti interview. Tiga hari kemudian, aku mendapat panggilan untuk tes kesehatan, Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kamu Dustai ??? yaa…aku diterima.