Bersyukur
bagi yang mudah dalam mendapatkan suatu pekerjaan, karena tidak terjadi padaku
yang harus jatuh bangun dalam mencari pekerjaan. Setelah lulus Alhamdulillah
aku diterima di salah satu bank syariah swasta, aku mendapat pekerjaan ini
melalui jobfair bersama temanku,
padahal waktu itu aku hanya ikut-ikut saja memasukkan lamaran ke bank itu tapi
ternyata malah aku yang keterima. Segala Puji Bagi Allah ^_^
Tapi
entah kenapa aku tidak nyaman dengan tempat bekerja ku ini, semakin hari
tekanan semakin jadi, sampai aku berfikir untuk resign toh buat apa aku paksakan berjuang disini tidak ada yang aku
cari disini, tidak ada yang harus aku pertahankan disini. Yaa keputusanku untuk
resign sudah bulat, walaupun banyak
orang yang menentang dengan keputusanku ini termasuk keluargaku sendiri, “tahan
dulu lah minimal sampai 1 tahun disana, kalaupun tidak sampai 1 tahun kamu
harus mendapatkan pekerjaan terlebih dahulu baru kamu keluar dari tempat
kerjamu” nasehat orang tuaku waktu itu. Percuma saja semua nasehat-nasehat itu
aku akan kekeuh dengan prinsip ku, belum mendapatkan pekerjaan? Gak masalah,
kan aku bisa cari lagi, aku juga optimis
dengan tes cpns-ku yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Hanya
7 bulan saja aku bekerja di bank itu, memang belum banyak yang aku dapatkan
tapi minimal aku sudah pernah bekerja, itu cukup untuk bekalku di tempat
bekerja nanti, fikirku waktu itu. Tepat ini hari terakhirku bekerja, aku tidak
merasa sedih dengan hari perpisahan ini justru sebaliknya aku senang karena
inilah hari yang aku tunggu-tunggu, hari dimana aku bebas dengan
tekanan-tekanan itu. Yes aku akan memulai hari baru ditempat lain, optimis
sekali aku hari itu.
Setelah
aku resign, aku belum memutuskan
untuk memasukan lamaran ke tempat lain karena aku masih ingin fokus untuk tes
cpns-ku, di rumah aku banyak mengerjakan latihan soal-soal, dengan seluruh
keyakinanku aku sangat optimis bisa tembus cpns. Ternyata keyakinan dan usaha
yang sungguh-sungguh pun belum cukup, aku GAGAL
tes cpns-ku di tahap awal. Ahh benar-benar aku kecewa.
Kegagalan
kemarin tidak membuat aku patah semangat untuk mencari pekerjaan lain, aku
harus membuktikan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan hasil
jerih payah ku sendiri. Biarlah rasa kecewa kemarin menjadi pemicu semangat
dalam pembelajaran ku ke depan.
Lamaran
demi lamaran aku masukkan, baik melalui pos, email, bahkan mengirim langsung ke tempat tujuan, Alhamdulillah aku
mendapat panggilan bank syariah pertama di Indonesia, entah kenapa walaupun aku
pernah kerja di bank aku tidak kapok untuk melamar di bank kembali. Kesempatan
untuk bekerja di bank syariah pertama di Indonesia ini harus aku lupakan, aku GAGAL dalam tes interview padahal aku
sudah bangga bisa melewati tes pengetahuan umum dan tes pengetahuan agama. It’s
okey aku tidak terpuruk untuk kegagalan keduaku ini, aku malah lebih semangat
memasukan lamaran kemana-mana sambil menikmati bisnis pulsa-ku.
Hari
itu aku mendapat panggilan dari bank syariah buko***, Alhamdulillah aku lulus
psikotest padahal dalam tes itu banyak jumlah sainganku. Yes, aku akan
menaklukan tes berikutnya, yaitu tes interview bersama psikolog. Aku optimis
dengan bekal beberapa kali tes interview kemarin. Ternyata benar nikmat sehat
itu mahal, mahal sekali. Aku harus pasrah ketika jarum infus harus ada
ditanganku, aku harus masuk ruang perawatan, padahal tiga hari lagi aku harus
datang tes interview itu. Rabb, aku ingin ikut tes itu, aku yakin bisa
melanjutkan tes-tes selanjutnya, segera pulihkan kesehatanku agar aku bisa
pulang kerumah. Benar saja ternyata aku boleh dipulangkan kerumah walaupun
dengan cara memaksa dokter, besoknya aku
dengan percaya diri berangkat menuju tempat interview walaupun harus diantar
oleh orangtuaku, karena mereka tidak tega membiarkan aku pergi sendirian dengan
tubuh masih lemas. Aku bisa menjawab semua pertanyaan dari psikolog itu, aku
yakin sekali dengan jawaban-jawaban tegas-ku. Tapi ternyata aku GAGAL !
Tapi
aku masih percaya dengan arti GAGAL, bukankah kegagalan adalah keberhasilan yag
tertunda? Dengan banyak GAGAL, berarti kita terus dikasih kesempatan untuk
banyak belajar. Harapan itu masih ada
dan akan terus ada selama usaha kita tidak berhenti.
Hari
itu aku datang ke acara walk in interview
salah satu bank terkemuka di Indonesia, walaupun bank ini bukan bank syariah,
aku tetap semangat mengikuti interview ini. Dengan bekal blazer dan heels kesayangan, aku siap dengan para
interviewer. Rabb, mengapa aku
dipertemukan dengan interviewer seperti ini, kenapa aku tidak dipertemukan
dengan interviewer seperti disampingku atau seperti di depanku yang
kelihatannya baik dan ramah sekali. Pertanyaan pertama saja aku tidak bisa
menjawab, bagaimana bisa menjawab menurutku itu pertanyaan skak mat buat ku.
Bagaimana tidak, aku diberi pertanyaan seperti ini “mengapa kamu mau melamar di
bank yang jelas-jelas bukan syariah, padahal kamu adalah lulusan dari
universitas islam?”. Lagi, aku GAGAL!
Aku
mendapatkan panggilan di rumah sakit yang berlokasi tepat depan kampusku, aku
datang untuk memenuhi panggilan tes staf SDM dirumah sakit tersebut. Mungkin
ini jalanku untuk bekerja sesuai dengan gelarku dan bidangku yaitu Kesehatan,
Alhamdulillah tes demi tes berhasil aku
lewati mulai dari tes pengetahuan, tes interview, dan tiba saatnya aku tes
komputer. Dan entah keberapa kalinya aku yakin akan berhasil dengan hasil tes
ini, bagaimana tidak yakin tes komputer itu benar-benar mendasar yaitu micrososft office (word, power point, dan excel). Bukan sombong dengan kemampuanku,
tetapi menurutku memang tes ini benar-benar mudah, kita hanya diberi tugas
untuk mengetik dalam waktu yang ditentukan, membuat suatu power point, dan
tabel dalam excel. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semua tugas itu dan
kurang dari waktu yang ditentukan, tapi apa yang terjadi? Aku GAGAL dalam tes komputer, aku tidak
terima bagaimana bisa aku lulus tes pengetahuan umum, aku lulus interview tapi
aku GAGAL tes komputer? Rabb, sebodoh itu kah seorang Farida Hidayati, SKM
harus gagal hanya sebuah tes komputer, benar-benar keputusan yang tidak bisa
aku terima.
Hari
demi hari aku mulai berdamai dengan keputusan itu, aku masih percaya dengan
makna GAGAL “yang paling dekat dengan keGAGALan
adalah keberhasilan” . Dengan niat dan do’a yang sungguh-sungguh pasti aku akan
berhasil. Masih banyak kesempatan diluar sana, toh dengan tidak bekerja aku
masih bisa mendapat penghasilan dari hasil bisnis pulsaku, yaa walaupun jauh
dengan gajiku dulu sewaktu bekerja di bank.
Hari
itu aku mendapat panggilan dari fakultas ku untuk tes posisi staf administrasi
kesehatan di salah satu klinik yang dikembangkan oleh fakultasku tersebut.
Ternyata sainganku adalah temanku sendiri, dan hanya dia satu-satunya yang
menjadi sainganku, kenapa aku bilang satu-satunya? karena Interviewer
menjelaskan bahwa yang ikut dalam tes ini hanya dua orang yaitu aku dan temanku
itu. Aku pasrah, pun kalau aku tidak diterima berarti yaa memang rezeki temanku
itu. Berhari-hari aku menunggu tapi tak ada kabar yang datang. Sampai pada
suatu hari, aku mendapatkan kabar bahwa sudah ada yang diterima untuk posisi
tersebut, ohh oke pasti temanku yang diterima pikirku waktu itu. Aku shock ternyata bukan, bagaimana tidak shock yang diterima adalah orang lain,
bagaimana bisa? Bukankah penjelasan interviewer itu menegaskan hanya aku dan
temanku yang ikut dalam tes itu? Kenapa yang diterima adalah orang lain?
Rabb…aku benar-benar kecewa, lagi dan lagi aku GAGAL !
Ternyata
benar yang bisa menghilangkan rasa sedih, kekecewaan adalah waktu, yaa seiring
berjalannya waktu, aku bisa menerima keputusan tersebut, selalu hati ini aku
sugestikan “ ada rezeki terbaik diluar sana yang masih Allah simpan untuk mu
Farida”. Hanya itu yang bisa menguatkanku, walaupun sudah beberapa kali GAGAL,
aku tidak pernah berhenti untuk memasukkan lamaran, hingga suatu hari aku
mendapat panggilan di salah satu bank syariah terkenal, ahhhh bangga sekali aku
mendapat panggilan itu, kenapa aku sangat bangga? Bagaimana tidak bangga, sudah
berkali-kali aku masukkan ke tempat itu dan baru kali aku mendapat panggilan
untuk interview. Aku sangat semangat mengikuti tes itu, saking semangatnya aku
harus terlambat bangun hanya gara-gara membaca buku sampai larut. Terlambat
tidak menghalangi ku untuk tetap tiba tepat waktu di tempat tersebut, tidak
peduli harus membayar ojek dari tangerang selatan, rumahku menuju tempat
interview di daerah Jakarta Pusat, bagaimana caranya aku tidak boleh
menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Alhamdulillah aku tidak terlambat, aku juga
lancar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi ternyata aku masih GAGAL!
Kalaupun harus mati dalam keadaan berjuang, bukan dalam keadaan
menyerah Farida !
Mungkin
prinsip itu yang harus aku pegang saat ini. Masih banyak kesempatan diluar sana
Farida, semua akan baik-baik saja, move
on move on Farida…Hari ini aku mendapat panggilan di salah satu sekolah
islam swasta di daerah BSD untuk posisi staf tata usaha, aku semangat dalam
panggilan tes itu, walaupun aku tidak tau lokasi sekolah tersebut dengan
percaya diri aku mengendarai motor sendiri tanpa banyak tanya. Aku sampai di
sekolah tersebut, aku senang dengan suasana islami yang menurutku sangat kental
dan ternyata sekolah tersebut mengharuskan semua siswa dan staf berbahasa
inggris dalam berkomunikasi, semoga ini memang kesempatan untukku agar aku bisa
mengasah kemampuan bahasa inggrisku disini. Hari itu ada tiga tes, tes pertama
adalah tes pengetahuan agama, tes kedua tes komputer dan tes terakhir adalah
tes interview, aku sangat enjoy dengan interview tersebut karena memang lebih
banyak sharing bukan introgasi. Diakhir interview, interviewer mengatakan jika
akan menghubungiku apapun keputusannya baik diterima atau tidak diterima dalam
jangka waktu seminggu. Aku ingat betul kata-kata terakhirnya, yaa akan
menghubungiku, seminggu sudah berlalu tapi tak ada yang menghubungiku, aku
mulai resah kenapa harus menjanjikan seperti itu, apa dia tidak tau bahwa aku
benar-benar mengharapkan keputusan itu, aku tidak peduli dengan hasilnya yang
penting aku dihubungi, titik.
Hari
itu puncak kegelisahanku, hari dimana semua harapan-harapan sudah musnah
rasanya, semangatku hilang entah kemana, Farida yang optimis, semangat dan
selalu berjuang untuk cita-citanya sudah tidak ada. Semua terasa kosong…hari
itu bertepatan dengan hari Jum’at, aku hanya banyak menghabiskan waktu dengan
berdiam di kamar dan rasanya tidak ingin bangun dari tempat tidurku. Kerjaanku
hanya menangis, menangis dan menangis. Yang ada hanya kata-kata keluhan kepada
Sang Pencipta, mengapa begini?mengapa begitu?. Sampai tiba waktu shalat Jum’at
terdengar suara khatib sedang memberikan ceramah jum’atnya, entah kenapa isi
ceramah itu tiba-tiba memekakkan telingaku “Ketika niat kamu sudah lurus,
usaha kamu sudah maksimal, dan do’a kamu sudah sungguh-sungguh kepada Allah dan
permintaan kamu belum dikabulkan maka disaat itulah Allah sedang menghapus
seluruh dosa-dosamu” Aku hanya bisa menangis dan menyesali
keluhan-keluhan yang sudah keluar dari mulutku. Mengapa aku harus mengeluh,
bukannya bersyukur..Aku mohon ampun kepada-Mu
Bukankah Thomas Alva Edison harus gagal sampai ke 9.998x ??? apa itu
yang disebut dengan keGAGALan??
BUKAN, melaikan keGIGIHan. Kamu memangnya sudah GAGAL berapa kali ? 100 kali ?
malu sekali rasanya dilontarkan pertanyaan seperti itu, aku sudah mengeluh
padahal kegagalanku masih bisa dihitung dengan hitungan jari, ayo Farida kamu
pasti bisa, aku mencoba menyemangati diri sendiri.
Hari
ini aku mendapat tawaran bekerja dari kaka sepupuku yang bekerja di perusahaan properti
di daerah Jakarta Selatan, tanpa fikir panjang aku meng-Iyakan tawaran
tersebut. Hari ini aku tes diperusahaannya, ada tiga tes yang harus aku lalui
yaitu tes pertama adalah tes bahasa inggris, tes komputer dan interview. Dua tes
tersebut aku bisa lalui dengan mudah, dan terakhir adalah tes interview,
ternyata pimpinan perusahaan tersebut adalah seorang wanita yang menurutku
masih muda, dan beliau merupakan keturunan tionghoa. Satu persatu pertanyaan
aku bisa jawab dengan mudah, sampai pada pertanyaan tentang pengalaman
bekerjaku, tadinya aku tidak ingin menceritakan pengalaman bekerjaku di Bank
dahulu, tapi entah kenapa aku malah menceritakan semuanya sampai alasan resign pun aku ceritakan. Beliau kaget
mendengar alasan resign-ku, dan aku
pun juga kaget dengan ucapan yang sangat menohok yang beliau utarakan ke aku:
“kamu
tau Bank itu adalah perusahaan yang sangat besar ? kamu tau kamu tidak mudah
untuk masuk ke Bank itu ? kamu tau banyak orang yang ingin mendapatkan
pekerjaan di Bank itu ? kamu tau berapa banyak saingan yang sudah kamu sisihkan
dalam mendapatkan posisi di Bank itu ? kamu tau Bank itu sudah besar, banyak
orang yang bisa mengendalikan dari mana saja seperti remote control ? tidak
seperti perusahaan saya yang hanya bisa dikendalikan oleh saya seorang, yang
jika saya tidak masuk maka kacau-lah perusahaan saya ini ? apa kamu tidak
fikir, kalau kamu sudah diberikan ilmu dari kamu yang tidak tau apa-apa menjadi
bisa dan tau, dan ketika kamu sudah bisa kamu tinggalkan perusahaan kamu begitu
saja tanpa rasa bersalah ? saya akui kamu pintar, saya liat IPK kamu tinggi,
kemampuan tes komputer kamu baik, dan kemampuan bahasa inggris kamu juga bagus
tapi sayang mental kamu masih mental tempe, pesan saya dimanapun kamu bekerja
nanti, bekerjalah dengan hati, ingat keringat, tenaga, waktu kamu sudah dibayar
oleh perusahaan kamu jadi kamu juga harus bertanggung jawab atas itu”
Rabb,
apalagi ini? kenapa aku dipertemukan dengan orang seperti ini, kenapa orang
yang baru pertama kali bertemu dengan aku bisa berbicara menusuk seperti ini,
aku hanya ingin keluar dari ruangan ini, aku hanya ingin cepat sampai rumah dan
semoga Allah masih memberikanku kesempatan untuk bertaubat. Di dalam angkot
menuju pulang ke rumah, aku menahan tangis, sepanjang jalan aku berdoa dalam
hati “Rabb ampuni aku, berikanlah kesempatan aku untuk bertaubat” itu saja
kalimat yang aku ulang-ulang sepanjang perjalanan. Sampai dirumah aku menangis
sejadi-jadinya dan aku langsung memeluk orangtuaku dan meminta maaf kepadanya. Alhamdulillah
Allah masih memberikan kesempatan aku untuk bersujud…bertaubat.
Hari
ini aku mendapat panggilan di salah satu perusahaan minuman yang sudah terkenal
di Indonesia, kebetulan sewaktu kuliah aku juga pernah mengunjungi perusahaan
tersebut pada mata kuliah Hygiene
Industry di daerah Sukabumi. Tes
pertama yang harus aku hadapi adalah Psikotest, Alhamdulillah tidak ada
kesulitan yang berarti untuk tes hari ini, benar saja aku di hubungi untuk tes selanjutnya yaitu tes interview
tapi untuk tes interview ini lokasinya bukan dikantor pusat melainkan dikantor
cabang Ciledug. Walaupun aku tidak tau lokasi tersebut dan lokasi tersebut
sangat jauh dari tempat tinggalku, tidak ada halangan aku untuk datang dan
menaklukan tes tersebut. Orang tuaku tidak tega membiarkan aku pergi sendirian
karena memang lokasi yang sangat jauh alhasil aku diantar oleh orang tuaku. Ternyata
memang lokasi ini sangat sangat jauh, Ciledug paling ujung orangtua aku
menyebutnya. Ketika sampai lokasi interview, bukannya orang tuaku memberi
semangat malah yang keluar dari ucapannya adalah membuat aku down, pesan orang
tuaku seperti ini “kalau nanti kamu
memang diterima disini, gak usah diambil yaa cari pekerjaan ditempat lain aja
tempatnya ini terlalu jauh”. Aku benar-benar tidak semangat dalam tes
interview ini, selalu terngiang-ngiang perkataan orangtuaku, untuk apa aku tes,
kalau nanti pun aku diterima tidak disetujui untuk bekerja disini, Rabb apa
lagi ini, apa yang harus aku lakukan ???.
Entah
kenapa hari-hari yang aku lalui sekarang lebih terasa ringan, tidak ada beban
sama sekali dan aku juga sudah bisa melupakan semua kegagalan-kegagalan yang
terjadi. Mungkin aku sudah bisa pasrah terhadap kehendak-Nya. Pagi itu seperti
biasa kegiatanku adalah duduk manis di depan laptop, apalagi kalau bukan
hunting-hunting lowongan. Mataku terhenti pada satu lowongan di internet, aku
langsung melihat tanggal dan Alhamdulillah masih ada waktu dan hari ini adalah
hari terakhir menyerahkan lamaran, bergegas aku menyiapkan lamaran dan berganti
pakaian untuk pergi ke tempat penyerahan lamaran, karena memang persyaratan
yang tercantum adalam menyerahkan lamaran secara langsung. Lokasi tempat
penyerahan lamaran lumayan jauh tapi minimal masih bisa dijangkau mudah oleh
angkutan umum, Astagfirullahaladzim hampir saja angkot yang aku naiki ini
menyerempet motor, aku tidak ada fikiran apa-apa saat itu yang ada difikiranku
hanyalah bagaimana aku bisa sampai dan menyerahkan lamaranku ini. Alhamdulillah
aku sampai dengan selamat.
Yaa lowongan
yang aku masukin kemarin adalah lowongan diperusahaan asuransi kesehatan
terbesar di Indonesia, pasti semua orang juga sudah tau jawabannya, PT. ASKES
(Persero). Perusahaan tersebut sedang membutuhkan verifikator kesehatan untuk
program Kartu Jakarta Sehat (KJS) yang mana program ini adalah program yang
sangat diunggulkan oleh Bapak Gubernur DKI
Jakarta (sekarang jadi presiden kita yaa). Alhamdulillah aku mendapat
panggilan untuk psikotest, dan aku lulus dalam tes tersebut. Besok adalah hari
interviewku, aku sangat deg-degan sekali, bagaimana tidak deg-degan besok aku
harus berhadapan dengan salah satu Kepala Cabang (KACAB) PT. Askes di Jakarta. Aku
sudah sangat semangat sekali mengikuti tes tersebut, tapi kenapa harus ada dua
panggilan pekerjaan di waktu yang bersamaan dengan jadwal interviewku di PT.
ASKES, Rabb bagaimana ini apa yang harus aku pilih ? dua panggilan lainnya
adalah panggilan tes di Rumah Sakit di daerah Bogor (posisi staf gizi) dan
satunya adalah panggilan dari salah satu Bank yang sangat terkenal di
Indonesia. Jika aku bisa membelah diri, aku akan membagi diriku ke tiga tempat
tersebut, tapi mana mungkin satu-satunya pilihan adalah harus memlih SATU
diantara TIGA pilihan. Dengan membaca Bismilah dan niat yang tulus, aku sudah
menetapkan pilihan untuk tes yang akan aku ikuti besok, yaa pilihannya adalah
PT. ASKES.
Hari
ini aku hanya ingin bertanggung jawab atas pilihanku, hari ini aku hanya ingin
menaklukan tes itu, tidak ada target atau apapun, semua hasil akan aku serahkan
kepada Sang Pemberi Rezeki. Karena untuk ke dua kali ke lokasi tersebut, aku
sudah hafal dengan jalan dan angkotnya jadi sudah tidak usah banyak tanya lagi,
mobil terakhir yang harus aku naikin yaitu bus metromini, aku ingat betul di dalamnya
hanya ada tiga penumpang yaitu aku, seorang ibu dan anak laki-lakinya. Aku memilih
duduk paling depan, biar gampang turunnya fikirku saat itu. Setengah perjalanan
sudah terlewati, tidak ada juga penumpang yang naik masih aku, seorang ibu dan
anak laki-lakinya. Lahaulawalkuataillabillah…apa yang terjadi dengan bus yang
aku tumpangi ini, kenapa jadi tiba-tiba oleng dan tidak bisa dikendalikan, aku panik apalagi ditambah dengan teriakan dari seorang
keneknya yang hanya bilang “REM NYA, REM NYA, REM NYA”. Allahuakbar tanpa fikir
panjang aku, ibu dan anak laki-lakinya langsung loncat keluar dari bus. Segala
Puji Bagi Allah aku selamat, aku selamat dari maut, aku benar-benar tidak mau
mengingat kejadian itu, benar-benar mengeringkan, benar-benar menakutkan, aku
tidak bisa berkata apa-apa saat itu, yang ada didalam fikiranku hanyalah, aku
hanya ingin menyelesaikan tes interview itu Rabb, itu saja, tidak lebih.
Sesudah
loncat dari bus, aku hanya bisa diam. Sampai ibu yang juga loncat bersamaku itu
menghampiriku dan berkata “ade gak papa? Ini minum dulu” lalu aku hanya
menggelengkan kepala dan mengucapkan terima kasih karena aku sudah membawa
minum. Rabb, kenapa mulutku jadi susah untuk digerakkan? Apa yang terjadi
dengan ku Yaa Rabb? Bagaimana bisa mulut ini susah untuk digerakkan padahal aku
harus menjawab pertanyaan interviewer tersebut ? Do’aku hanya satu pada saat
itu “Rabb jika memang ini rezekiku
tolong permudahlah, tetapi jika ini memang bukan rezekiku, berikan pekerjaan
lain yang terbaik untukku”. Aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan,
entah kenapa aku terfikir untuk sms kakaku dan memberitahukan kejadian
mengerikan yang baru saja aku alami. Alhamdulillah balasan dari kakaku bisa
menenangkan hati dan fikiranku “sebelum
masuk ke ruang interview, kamu cari mushola dulu dan tenangin diri disana,
jangan lupa berdo’a gak usah mikir apa-apa in sha allah semuanya akan baik-baik
saja, doaku menyertaimu ^_^”.
Tidak
lama aku menunggu di ruang interview,namaku dipanggil. Bismillah semua akan
baik-baik saja, dan ternyata interviewer ku adalah Kacab dari Jakarta Timur,
ehhm menurutku Bapak Kacab ini baik dari mukanya, senyumnya bisa menghilangkan
kekhawatiranku, Alhamdulillah satu persatu pertanyaan bisa aku jawab
sampai-sampai tak terasa satu jam aku di interview oleh Bapak Kacab ini…wahhh
rekoorrr interview terlama yang pernah aku hadapi selama aku mengikuti
interview. Tiga hari kemudian, aku mendapat panggilan untuk tes kesehatan, Maka
Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kamu Dustai ??? yaa…aku diterima.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKereeen ida perjuangannya..tetep semangat ya da.. _ami najmi_
BalasHapusiya harus semangat lah mi :) ami juga pasti tau cerita di salah satu paragraf, heheee
BalasHapus